01840 2200337 4500001002100000005001500021035002000036006001800056007000300074008004100077856016300118020002200281040001700303082001900320084002500339090002400364100002900388245003700417264004800454300003800502336002100540337003000561338002300591504003400614520077800648650001901426650001401445650001101459850001201470999002001482INLIS00000000096889820220512022825 a0010-0522000008aa g b 000 1ta220512 g 1 ind  xhttp://opac.perpusnas.go.id/uploaded_files/sampul_koleksi/original/Monograf/1239958.JPG?rnd=1750835146yhttp://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=1239958 a978-602-06-3560-6 aJKPNPNAbind a303.609 598 72 a303.609 598 72 KRI d aCB-D.09 2019-0308710 aKristin SamahePengarang1 aDuka dari nduga /cKristin Samah aJakarta :bPT Gramedia Pustaka Utama,c2019 a195 halaman :bilustrasi berwarna 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aBibliografi : halaman 191-192 aBerbeda pendapat dengan pemerintah tidak diturunkan secara genetik. Seorang penyandera tidak otomatis menurunkan anak-anak yang akan menyandera orang lain. Cerita kekerasan yang dikisahkan dari mulut ke mulut, turun-temurun, itulah yang membuat trauma dan dendam terpelihara. Duka dari Nduga berkisah tentang seorang perempuan penyintas kekerasan seksual. Apa yang dia alami secara tidak langsung berkaitan dengan peristiwa kekerasan dan pembunuhan di Kabupaten Nduga, Papua, pada periode berbeda-beda. Selama tiga tahun terakhir, jumlah korban meninggal dunia mencapai 28 orang. Sebagian besar penyintas kekerasan seksual enggan melaporkan kasus yang dialami karena minim dan bahkan tidak memiliki perspektif korban yang dampaknya justru akan mengalami kekerasan berlapis. 4aKonflikzPapua 4aKekerasan 4aWanita aJKPNPNA a201900101198777